Neverkusen: Saat Bayer Leverkusen Kehilangan 3 Gelar dalam 11 Hari



Musim 2001/02, Bayer Leverkusen hampir meraih treble. Tapi dalam 11 hari, mereka kehilangan Bundesliga, DFB-Pokal, dan Liga Champions. Dari tim hebat yang nyaris menaklukkan Eropa, mereka justru lahir sebagai simbol luka: Neverkusen.

Skor akhir hanya angka. Ceritanya ada di balik lapangan.

#DiBalikLapangan #Neverkusen #BayerLeverkusen #Ballack #ChampionsLeague #Bundesliga #SepakBola #Shorts

source

1 thought on “Neverkusen: Saat Bayer Leverkusen Kehilangan 3 Gelar dalam 11 Hari”

  1. Bayer Leverkusen musim 2001/02 adalah salah satu tim terbaik yang tidak pernah benar-benar mendapat mahkota. Mereka punya kualitas, punya permainan, dan punya keyakinan bahwa musim itu bisa menjadi musim yang mengubah sejarah klub. Michael Ballack sedang berada di level elite, LΓΊcio memimpin dari belakang, ZΓ© Roberto memberi kelas, dan Berbatov memberi ancaman di depan.

    Tapi Mei 2002 berubah jadi bulan paling kejam dalam sejarah mereka. Leverkusen menutup Bundesliga di posisi kedua, hanya 1 poin di belakang Borussia Dortmund. Seminggu kemudian, mereka kalah 4-2 dari Schalke di final DFB-Pokal. Lalu empat hari setelahnya, di final Liga Champions, mereka kembali jatuh β€” kali ini 2-1 dari Real Madrid, dalam laga yang selamanya diingat karena voli legendaris Zinedine Zidane.

    Dalam 11 hari, mereka kehilangan tiga gelar. Dan dari situlah lahir julukan yang terasa seperti kutukan: Neverkusen.

    Ironinya, tim ini bukan tim buruk yang gagal. Justru sebaliknya. Mereka terlalu bagus untuk pulang tanpa apa-apa. Dan mungkin itulah yang membuat kisah mereka terasa lebih menyakitkan daripada sekadar kalah.

    Menurut kalian, apakah Neverkusen 2002 adalah tim terbaik yang paling tragis dalam sejarah sepak bola?

Comments are closed.

Scroll to Top